Majelis Ulama Indonesia Propinsi Jawa Timur
Jl. Dharmahusada Selatan No.5, Surabaya 60285
Telp. (031) 5926018, Fax (031) 5926019

Fatwa MUI : PENGGUNAAN VAKSIN MENINGITIS BAGI JEMAAH HAJI ATAU UMRAH
Nomor : 06 Tahun 2010

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) setelah:

Menimbang :

a. bahwa penyakit jama'ah haji dan umrah penularan penyakit melalui vaksinasi Meningitis
b. bahwa pemerintah Arab Saudi orang yang akan berkunjung ke negara tersebut, termasuk untuk kepentingan haji dan/atau umrah, Meningitis guna yang berbahaya
c. bahwa pada saat in memproduksi Beecham Pharmaceutical Diagnostics S.r.i. (3) Zheijiang Tianyuan Bio Pharmaceutical Co. Ltd. ;
d. bahwa Komisi Fatwa MUI tentang status kehalalan produsen tersebut.
e. bahwa untuk itu, Komisi Fatwa MUI menetapkan fatwa tentang hukum produk dari ketiga produsen tersebut Umrah, sebagai pedoman bagi pemerintah, umat Islam dan piha pihak lain yang memerlukannya.

Mengingat :
1. Firman Allah
"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut
(nama) selain Allah. Akan tetapi, barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan
tidak (pula) melampui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Baqarah [2]: 173).
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu memakan hewan) yang disembelih untuk berhala..." (QS. Al-Maidah[5]: 3)
"Katakanlah Tiadalah aku peroleh dalamwahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi, karena susungguhnya semua itu kotor, atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak
menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-An'am[6]: 145)
2. Hadits-hadits Nabi SAW, antara lain:
"Berobatlah, karena Allah tidak membuat penyakit kecuali membuat pula obatnya selain satu penyakit, yaitu pikun (tua)". (HR. Abu Daud dari Usamah bin Syarik).
"Allah telah menurunkan penyakit dan obat, serta menjadikan obat bagi setiap penyakit; maka, berobatlah dan janganlah berobat dengan benda yang haram." (HR. Abu Daud dari Abu Darda)."
"Sekelompok orang dari suku Ukl atau Urainah datang dan tidak cocok dengan udara Madinah (sehingga mereka jatuh sakit); maka Nabi SAW memerintahkan agar mereka diberi unta perah dan (agar mereka) meminum air kencing dan susu dari unta tersebut..." (HR. Al-Bukhari dari Anas bin Malik).
"Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali menurunkan (pula) obatnya." (HR. Al-Bukhari dari Abu Hurairah).
"Rasulullah SAW ditanya tentang tikus yang jatuh ke dalam keju. Beliau SAW menjawab: "Jika keju itu keras (padat), buanglah tikus itu dan keju sekitarnya, dan makanlah (sisa) keju tersebut; namun jika keju itu cair, maka janganlah kamu memakannya" (HR. Ahmad dari Abu Hurairah).
3. Kaidah-kaidah tentang sad adzari'ah:

Memperhatikan :

1. Pendapat para ulama, antara lain ;
“Imam Zuhri (w. 124 H) berkata, Tidak halal meminum air seni manusia karena suatu penyakit yang diderita, sebab itu adalah
najis; Allah berfirman: ‘…Dihalalkan bagimu yang baik-baik (suci)…’ (QS. Al-Maidah[5]: 5). Dan Ibnu Mas’ud (w 32 H) berkata tentang sakar (minuman keras), Allah tidakmenjadikan obatmu pada sesuatu yang diharamkan atasmu” (HR al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Maktabah Syamilah, juz 17, h. 328).
2. Pendapat para ulama tentang rukun dan syarat tathhir (pensucian).
3. Keterangan Menteri Kesehatan RI pada tanggal 9 Juli 2010 yang menyatakan bahwa sampai saat ini kebijakan mewajibkan para
pengunjung Arab Saudi memakai vaksin meningitis masih tetap berlaku.
4. Laporan dan Penjelasan Hasil Audit Tim Auditor LPPOM MUI ke tiga perusahaan vaksin meningitis yaitu:
a. Tim auditor Glaxo Smith Kline Beecham Pharmaceutical- Belgium, yang menyatakan antara lain bahwa dalam proses produksi vaksin di perusahaan ini pernah bersentuhan dengan bahan yang tercemar babi.
b. Tim auditor Novartis Vaccine and Diagnostics S.r.i., yang menyatakan antara lain bahwa dalam proses produksi vaksin di perusahaan ini tidak bersentuhan dengan babi atau bahan yang tercemar babi dan telah melalui proses pencucian.
c. Tim auditor Zheijiang Tianyuan Bio Pharmaceutical Co. Ltd., yang menyatakan antara lain bahwa dalam proses produksi vaksin di perusahaan ini tidak bersentuhan dengan babi atau bahan yang tercemar babi dan telah melalui proses pencucian.
5. Pendapat peserta rapat Komisi Fatwa pada tanggal 10 Juni 2010, 12 Juni 2010, 16 Juni 2010, tanggal 22 Juni 2010, 24 Juni 2010, tanggal 30 Juni 2010, 9 Juli 2010, dan 16 Juli 2010, yang antara lain :
a. bahwa produk vaksin yang dalam proses produksinya pernah bersentuhan dengan bahan yang tercemar babi dinyatakan telah memanfaatkan (intifa') babi.
b. bahwa produk vaksin yang dalam proses produksinya tidak bersentuhan dengan babi atau bahan yang tercemar babi tapi bersentuhan dengan bahan najis selain babi dapat disucikan kembali.
c. Pencucian dalam proses produksi vaksin di perusahaan Novartis Vaccine and Diagnostics S.r.i dan Zheijiang Tianyuan Bio Pharmaceutical Co. Ltd dipandang telah memenuhi ketentuan pencucian secara syara' (tathhir syar'an). Dengan bertawakal kepada Allah SWT

 

MEMUTUSKAN

Menetapkan : FATWA TENTANG PENGGUNAAN VAKSIN MENINGITIS
BAGI JEMAAH HAJI ATAU UMRAH
Ketentuan Umum :

Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan :
a. Vaksin MencevaxTM ACW135Y adalah vaksin meningitis yang diproduksi oleh Glaxo Smith Kline Beecham Pharmaceutical- Belgium.
b. Vaksin Menveo Meningococcal adalah vaksin yang mempunyai nama produksi Menveo Meningococcal Group A, C, W135 and Y Conyugate Vaccine yang diproduksi oleh Novartis accine and Diagnostics S.r.i.
c. Vaksin Meningococcal adalah vaksin yang mempunyai nama produksi Meningococcal Vaccine yang diproduksi oleh Zheijiang Tianyuan Bio Pharmaceutical Co. Ltd.

Ketentuan Hukum :

1. Vaksin MencevaxTM ACW135Y hukumnya Haram.
2. Vaksin Menveo Meningococcal dan Vaksin Meningococcal hukumnya Halal.
3. Vaksin yang boleh digunakan hanyalah vaksin meningitis yang halal.
4. Ketentuan dalam Fatwa MUI Nomor 5 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa bagi orang yang melaksanakan haji wajib atau umrah wajib boleh menggunakan vaksin meningitis haram karena al-hajah (kebutuhan mendesak) dinyatakan tidak berlaku lagi.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 4 Sya'ban 1431 H / 16 J u l i 2010 M
KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua, ,
DR. H. M. ANWAR IBRAHIM

Sekretaris
DR. H. HASANUDIN, M.Ag

Mengetahui,
DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua,
K. H. MA'RUF AMIN

Sekretaris Umum,
DRS. H. M. ICHWAN SAM

2. Pendapat para ulama tentang rukun dan syarat tathhir (pensucian).
3. Keterangan Menteri Kesehatan RI pada tanggal 9 Juli 2010 yang
menyatakan bahwa sampai saat ini kebijakan mewajibkan para
pengunjung Arab Saudi memakai vaksin meningitis masih tetap
berlaku.

Joomla template by Joomlashine.com